Menyingkap Kegelapan Nurani Bangsa Indonesia

Berangkat dari peristiwa aktual sehari-hari tentang kondisi nurani bangsa, yang saya angkat menjadi khatbah Jumat. Telah disampaikan pada 17 Juni 2011 (Masjid al Hayat Fakultas Biologi UGM), 24 Juni 2011 (Masjid al-Falaah Blunyah Gede), dan 1 Juli 2011 (Masjid al-Amin Popongan Baru). Selamat membaca.

Segala puji hanya pantas disandangkan kehadirat Allaah Ta’aala, Tuhan Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Alam Semesta beserta isinya.

Dialah Allaah, yang mengatur keseimbangan semesta dengan mengedarkan bumi, bintang, dan benda-benda langit lainnya agar bergerak sesuai garis edarnya.

Dialah Allaah, yang menguasakan bagi matahari dan bulan agar menjadi penyempurna bumi, demi keseimbangan kehidupan zhahir umat manusia.

Dialah Allaah, yang mengilhami manusia dengan cahaya nurani, sinar iman serta islam, demi keseimbangan kehidupan kejiwaan umat manusia.

Dialah Allaah, yang masih mengaruniakan akhlak kejujuran pada masyarakat bangsa Indonesia melalui Ibu Siami di Surabaya, di saat sebagian pemimpin kita sedang berusaha menutup kebohongannya dengan kebohongan lain, dengan menjadikan politik dan kekuasaan sebagai sebab bagi halalnya perbuatan nisata tersebut.

Semoga Allaah Ta’aala segera mengangkat bencana akhlak yang menimpa negeri kita, dengan hujan yang sangat lebat, yaitu hujan cahaya kebaikan dan kebenaran kepada segenap makhluk di Indonesia tercinta. Amin, Allaahumma Amin.

Shalawat serta salam dari Allaah Ta’aala dan segenap makhluk ciptaan Allaah Ta’aala senantiasa tercurahkan kepada sang pemimpin umat manusia sekaligus pemimpin para Nabi dan Rasul, satu-satunya manusia yang paling pantas untuk menjadi contoh dan teladan, baik dari perilaku, perkataan, maupun persetujuannya atau penolakannya terhadap sebuah peristiwa selama dirinya hidup, manusia yang sangat mencintai umatnya, manusia yang paling halus budinya, manusia yang paling baik perkataannya, manusia yang paling jujur sepanjang sejarah kehidupan manusia, beliaulah Rasuulullaah Muhammad SAW.

Tercurahkan pula kepada segenap keluarga, sahabat, serta para pengikut Beliau SAW, hingga kelak datangnya hari kebangkitan.

Selanjutnya, saya mengingatkan kembali, khusus dan utamanya kepada diri saya sendiri serta kepada seluruh hadirin rahimakumullaah pada umumnya, agar pada hari Jumat yang mulia dan penuh keberkahan ini, marilah kita kembali memperbarui sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allaah Ta’aala, dengan sebenar-benarnya iman dan takwa.

Yaitu bagaimana, seluruh diri kita, hati, lisan, maupun seluruh perbuatan kita agar ditujukan pada ikhtiar nyata, zhahir dan bathin, untuk menjalankan setiap hal yang diperintahkan oleh Allaah Ta’aala, sekaligus menjauhkan diri dari semua hal yang dilarang oleh Allaah Ta’aala, tanpa batasan ruang dan waktu.

Karena sebaik-baik manusia di sisi Allaah Ta’aala adalah bukan karena harta ataupun jabatan yang melekat, tapi sebaik-baik manusia di sisi Allaah Ta’aala adalah terukur dari ketakwaannya kepada Allaah Ta’aala. Sebagaimana termaktub dalam penutup ayat 13 surat al-Hujurat:

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertakwa diantara kamu.

Hadirin rahimakumullaah.

Masyarakat Indonesia sering membanggakan dirinya sebagai sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar. Pemerintah sendiri pun, karena begitu besarnya jumlah kaum muslimin begitu mengakomodir kepentingan kita semua, seperti dengan menjadikan hari besar Islam sebagai hari libur nasional, memperingati hari besar Islam secara rutin di mana media elektronik nasional sering menyiarkannya secara langsung, mengatur jalannya ibadah haji, dan memberikan keleluasaan yang luar biasa bagi kita semua untuk menjalankan ibadah sepanjang tahun.

Namun, keleluasaan terhadap kaum muslimin tersebut ternyata belum mampu memberikan korelasi positif antara keleluasaan mengabdi kepada Allaah Ta’aala dengan kebaikan-kebaikan diri yang seharusnya menjadi akibat dari sebuah ritual pengabdian kepada Allaah Ta’aala. Padahal, Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al-‘Ankabut ayat 45

Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu (Nabi Muhammad SAW), yaitu Al Kitab (Al Quran) dan laksanakanlah shalat (dengan sempurna atau secara berkesinambungan). Sesungguhnya shalat (yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Allaah dan Rasul-Nya, senantiasa) mencegah (pelakunya dari) kekejian dan kemungkaran, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bahkan, peristiwa aktual baru-baru ini menunjukkan bahwa Indonesia tercinta sedang menuju masa-masa yang kelam, demikian pendapat para tokoh agama yang saya sepakat dengannya.

Kalau pada tahun 1965-an dan 1998 Indonesia mengalami sebuah masa kegelapan yang luar biasa di mana masyarakat sangat tertekan dengan kondisi politik pemerintahan dan ekonomi, maka saya berpendapat bahwa beberapa tahun terakhir ini kita pun sedang mengalami sebuah masa kegelapan, yaitu sebuah kegelapan nurani.

Hadirin rahimakumullaah.

Dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya berpendapat bahwa saat ini, nurani manusia Indonesia sedang terbelenggu oleh kenyataan yang sangat menyakitkan. Sudah sedemikian terbukanya informasi dan sudah sedemikian pandainya masyarakat kita memahami realitas serta memiliki keberanian untuk menyuarakan keprihatinannya, tetap saja sebagian pemimpin kita, para pemegang wewenang di negeri bernama Indonesia tak bergeming.

Harus diakui bahwa pemerintah memiliki prestasi yang bagus di bidang penegakan hukum, korupsi khususnya. Akan tetapi, di sisi lain kita juga melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebagian usaha penegakan hukum tersebut terbelenggu oleh kepentingan politik maupun kepemilikan harta dunia. Apalagi ketika kasus-kasus tersebut menyentuh partai-partai tertentu atau pejabat-pejabat tertentu atau mantan-mantan pejabat.

Bahkan, ironisnya kita sering melihat bagaimana manusia-manusia Indonesia yang tulus mengorbankan dirinya demi pemenuhan kebutuhan keluarganya sehari-hari, harus menghadapi sistem hukum yang rumit, hanya karena tuntutan para orang besar yang sedang miskin nurani.

Ya, di satu sisi, orang-orang yang mempunyai kekayaan luar biasa atau memiliki pengaruh di ranah politik bisa melenggang bebas menghindari proses hukum atas kasus milyaran rupiah, tapi di sisi yang lain, saudara kita di daerah harus diproses hukum hanya karena beberapa batang kayu bakar, beberapa buah semangka, atau beberapa kartu perdana.

Inilah, hadirin rahimakumullaah, sebuah realitas yang kita hadapi. Sebuah kegelisahan nurani. Peristiwa-peristiwa tersebut sebenarnya sangat sederhana penyelesaiannya, jika dilihat dari nurani yang bersih dan suci, tapi kesemuanya menjadi rumit dan berliku karena adanya kepentingan, kekayaan, atau bahkan kebohongan yang terlibat di dalamnya, sehingga kotorlah nurani mereka dan tertundalah penyelesaiannya.

Apalagi dengan munculnya kasus Ibu Siami di Surabaya, bagi saya semakin memperparah kegersangan nurani yang sedang kita alami saat ini. Coba bayangkan, seorang ibu yang mencoba mengajarkan anaknya sebuah nilai sederhana, kejujuran, harus menghadapi tetangganya sendiri yang justru mengusirnya dari kampung.

Saya sempat menyaksikan wawancara dengan Ibunda dari Ibu Siami di Gresik di sebuah televisi. Seorang tua yang sangat sederhana yang ditanya tentang nilai apa yang diajarkan olehnya kepada seorang Siami. Beliau menjawab dengan bahasa Jawa, yang intinya mengatakan bahwa hanya dua hal yang ia tanamkan pada Bu Siami: jujur dan jangan mengambil milik orang lain.

Dan sungguh, Ibu Siami yang terilhami oleh ajaran Ibunya tersebut mencoba mengajarkan kepada anaknya, tapi justru mendapatkan tantangan dan ancaman yang luar biasa.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya sangat yakin, bahwa saat ini Rasuulullaah SAW sedang menangis tersedu-sedu melihat perilaku kita sebagai bangsa Indonesia. Beliau SAW akan sangat kecewa kepada bangsa kita, yang membanggakan keislaman kita, meninggikan nama Beliau SAW dalam setiap majelis Jumat, majelis ta’lim, dan majelis dzikir, tetapi nol besar perilakunya. Sebagian pemimpin kita masih saja berdalih dalam menegakkan kebenaran, sedangkan sebagian dari masyarakat kita juga belum mau dewasa dalam mengajarkan kesucian nurani kepada nasab mereka.

Oleh karenanya, mari kita bersama-sama memperbaiki kondisi bangsa ini, dengan memulainya pada diri sendiri kita masing-masing. Dan memulainya pula dengan hal-hal yang kecil. Serta memulainya dari sekarang, yaitu dengan meneguhkan hati untuk lebih banyak menggunakan nurani.

Kita tidak kuasa untuk menjewer para pemimpin kita yang sedang tidak bernurani, toh selama ini suara-suara nurani jarang didengar, kecuali ketika menyentuh kepentingan mereka. Kita tidak kuasa pula menasehati para orang tua yang membiarkan anaknya mencontek dengan dalih agar lulus serta menganggap bahwa wajar anak kecil mencontek. Kita tidak kuasa menyentuh mereka.

Akan tetapi, hadirin rahimakumullaah, kita punya kuasa penuh pada diri sendiri, untuk memaksanya agar berjalan dan beraktivitas dengan nurani. Dimulai dari lingkaran terkecil kehidupan kita agar menjadi sebuah kebiasaan, baru sesudahnya akan kita bawa sebagai sebuah watak, yang tak lagi terhijab ruang dan waktu.

Sekali lagi, mari memulainya dari diri sendiri, untuk kemudian kita tingkatkan menanamkan nurani dalam keluarga kita.

Prof. Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya Membumikan al-Qur`an:

Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan atau keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut. Keluarga Tiang Negara

Hadirin rahimakumullaah,
Allaah Ta’aala berfirman dalam al-Qur`an surat ar-Ra’du ayat 11

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Ayat yang sudah masyhur di atas menggunakan kata anfusihim, yang menunjuk pada kata ganti jamak. Maknanya jelas dan pasti, bahwa perubahan individu tidak akan pernah mencakup perubahan bangsa jika tidak mencapai derajat perubahan masyarakat. Artinya, pembinaan diri dan masyarakat harus berbarengan, masing-masing, yaitu individu dan masyarakat, saling menunjang satu dengan lainnya.

Semoga Allaah Ta’aala meridlai niat teguh dan ikhtiar zhahir serta batin kita dalam menggunakan nurani sebagai sebuah watak, serta semoga pula Allaah Ta’aala segera mengangkat kegelapan nurani yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia dengan mengilhamkan cahaya kebajikan bagi semua nurani, serta memberikan ampunan bagi kita semua yang masih sering mengabaikan nurani. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s